Bengkayang, 21 Mei 2026 — Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Bengkayang bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI) Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan Workshop Digitalisasi Pembelajaran
di Aula Rangkaya, Kantor Bupati Bengkayang. Kegiatan ini diikuti oleh 92 guru jenjang SD dan SMP dari 17
kecamatan di Kabupaten Bengkayang sebagai bagian dari upaya
peningkatan kompetensi pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan di era
digital. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang,
Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang beserta jajaran, Ketua PGRI Provinsi Kalimantan Barat,
Ketua PGRI Kabupaten
Bengkayang, Ibunda
Guru Kabupaten Bengkayang, para narasumber, serta seluruh
peserta workshop yang terdiri dari guru-guru SD dan SMP dari berbagai wilayah
di Kabupaten Bengkayang. Workshop ini menjadi wadah penguatan kapasitas guru, kepala
sekolah, dan pengawas sekolah dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran,
khususnya penggunaan Papan
Interaktif Digital (PID) serta pengembangan bahan ajar berbasis
teknologi yang semakin dibutuhkan dalam proses pembelajaran masa kini.
Kegiatan dibuka secara
resmi oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., yang dalam
sambutannya menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tengah berada dalam era
transformasi digital yang menuntut kemampuan adaptasi, inovasi, dan penguasaan
teknologi sebagai bagian dari kompetensi profesional seorang pendidik.
Digitalisasi pembelajaran, menurutnya, bukan lagi sebuah pilihan, melainkan
sebuah kebutuhan yang harus direspons secara serius oleh seluruh pemangku
kepentingan pendidikan.
Bupati menyampaikan
bahwa workshop ini memiliki nilai strategis karena mendukung peningkatan
kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran, mengembangkan bahan
ajar berbasis teknologi, serta memperkuat kompetensi pedagogik di era digital.
Kegiatan ini juga mendorong penerapan pendekatan Technological Pedagogical
Content Knowledge (TPACK) agar teknologi tidak hanya menjadi alat bantu
pembelajaran, tetapi menjadi bagian integral dari desain pembelajaran yang
bermakna dan berdampak bagi peserta didik.
Dalam arahannya, Bupati
juga menyoroti posisi Kabupaten Bengkayang sebagai wilayah perbatasan yang
dikenal sebagai “Teras Negeri.” Menurutnya, sebagai teras depan Indonesia yang
berbatasan langsung dengan Malaysia, Bengkayang harus tampil maju, terbuka, dan
berkualitas, termasuk dalam bidang pendidikan.
“Kabupaten Bengkayang
memiliki posisi strategis sebagai wilayah perbatasan sekaligus dikenal sebagai
Teras Negeri. Maka sudah sepatutnya teras itu tampil maju, terbuka, dan
berkualitas, termasuk dalam bidang pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati
menekankan bahwa penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kompetensi penting
yang perlu dipersiapkan sejak dini bagi peserta didik di wilayah perbatasan.
Selain penguatan literasi digital, sekolah-sekolah di Bengkayang juga perlu
mendorong kemampuan komunikasi global, khususnya penguasaan Bahasa Inggris
sebagai bahasa internasional dan Bahasa Mandarin yang memiliki relevansi kuat
terhadap perkembangan ekonomi, perdagangan, serta hubungan internasional di
kawasan regional.
Sementara itu, Ibunda
Guru Kabupaten Bengkayang Ny. Anita Sebastianus Darwis,
S.E., M.M., dalam paparannya menyoroti karakteristik peserta didik saat ini
yang sebagian besar berasal dari Generasi Alfa, generasi yang tumbuh bersama
teknologi digital sejak usia dini. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan
sekaligus peluang bagi dunia pendidikan.
Menurut Anita,
banyak guru berasal dari generasi sebelumnya yang memiliki pengalaman dan
pendekatan belajar yang berbeda. Oleh karena itu, penguatan pembelajaran
digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Perbedaan generasi bukanlah
hambatan, melainkan peluang untuk membangun proses pembelajaran yang lebih
kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini
sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran.
Ketua PGRI Provinsi
Kalimantan Barat yang diwakili oleh Maliki, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi
atas kolaborasi yang terjalin antara PGRI dan Pemerintah Kabupaten Bengkayang
melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Menurutnya, workshop ini merupakan
bentuk nyata pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah
dalam menguasai teknologi pendidikan, terutama pemanfaatan Papan Interaktif
Digital (PID).
Maliki
menegaskan bahwa penguasaan teknologi merupakan kebutuhan mendasar bagi
pendidik saat ini. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan dapat
mendorong para guru untuk terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan kemampuan
teknologi yang mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan menarik.
Dalam sesi materi,
peserta mendapatkan pelatihan langsung mengenai Praktik Pemanfaatan Papan
Interaktif Digital (PID) yang disampaikan oleh Suwanto, M.Pd. Materi ini
memberikan pengalaman praktis kepada peserta dalam mengoptimalkan penggunaan
perangkat digital untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif,
dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, peserta
juga mengikuti sesi Praktik Pembuatan Bahan Ajar Berbasis Aplikasi Book Creator
yang dibawakan oleh Dian Aprilia Manase, S.Pd., B.Ed. Melalui pelatihan
tersebut, para guru diperkenalkan pada berbagai teknik pengembangan bahan ajar
digital yang kreatif, menarik, dan mudah diimplementasikan dalam proses
pembelajaran sehari-hari.
Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, Heru Pujiono, S.K.M., M.K.M., menyampaikan
bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat
transformasi pendidikan di Kabupaten Bengkayang. Penguatan kompetensi digital
guru menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung implementasi
pembelajaran yang berkualitas, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi profesi, dan satuan pendidikan, diharapkan semakin banyak guru yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, transformasi pendidikan di Kabupaten Bengkayang tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia sebagai penggerak utama perubahan pendidikan menuju generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. (PSSHA)